peranan penting ekonomi syari’ah


moch muiz udin

Perkembangan pereonomian Islam dewasa ini bertumpu pd empat pilar;

 Pertama; adalah korpus ekonomi Islam itu sendiri yg berwujud teori-teori ekonomi yg telah ditulis baik oleh para ulama yg pd umumnya merupakan pembahasan mengenai hukum syariah di bidang ekonomi.

 Kedua; proses pendidikan & latihan yg menciptakan tenaga-tenaga professional yg tdk saja mampu melaksanakan prinsip-prinsip ekonomi & bisnis tetapi juga memahami syariah & lebih-lebih di bidang keuangan & perbankan mampu melaksanakan asas-asas prudensialitas baik ekonomis maupun syariah.

 Ketiga; adalah perkembangan perbankan syariah & lembaga keuangan syariah lainnya (asuransi takaful reksadana obligasi zakat & wakaf).

Keempat; adalah perkembangan bisnis di sektor riil seperti pertanian pertambangan industri perdagangan & jasa. Keempat pilar itu berkaitan satu dg yg lain. Sebagai contoh beroperasi nya sistem perbankan syariah secara berkesinambungan (sustainable) sangat bergantung pd mutu sumber daya manusia (human resource) sebagai modal manusia (human capital) yg dihasilkan oleh sistem pendidikan & latihan. Selanjutnya perkembangan pendidikan & latihan juga bersumber pd perkembangan teori-teori & konsep-konsep mengenai keuangan syariah. Perkembangan sektor riil pd gilirannya ditunjang oleh sektor keuangan & perbankan dg modal finansial. Lahirnya ekonomi Islam di zaman modern ini cukup unik dalam sejarah perkembangan ekonomi. Ekonomi Islam berbeda dg ekonomi-ekonomi yg lain lahir karena dua faktor; Pertama; berasal dari ajaran agama yg melarang riba & menganjurkan sedekah. Kedua; timbulnya surplus & yg disebut petro-dollar dari negara-negara penghasil & pengekspor minyak dari Timur Tengah & negara-negara Islam. Adalah suatu kebetulan bahwa lading-ladang minyak terbesar di dunia dewasa ini berada di negara-negara Muslim. Sebenarnya kesadaran tentang larangan riba telah menimbulkan gagasan pembentukan suatu bank Islam pd dasawarsa kedua abad ke 20. Tapi gagasan tersebut hanya melahirkan satu dua bank kecil yg tdk berdasarkan bunga. Sebabnya mudah dipahami yaitu karena tiada nya modal finansial yg mencukupi yg dimiliki kaum Muslim. Pada waktu itu juga sudah disadari adanya doktrin sedekah / zakat & K.H. Ahmad Dahlan sudah punya gagasan utk membentuk lembaga amil (penghimpun & pengelola) zakat. Tapi dana yg berhasil dikumpulkan itu dibutuhkan langsung utk dakwah & penyantunan fakir miskin. Karena itu belum ada gagasan utk menjadikan dana zakat sebagai modal bank. Gagasan penghimpunan zakat utk modal bank baru timbul di Mesir pd awal dasawarsa 60-an. Maka pd tahun 1963 atas prakarsa seorang cendekiawan Mesir Dr. Ahmad al Najjar dibentuk bank pedesaan (rural bank) bersama Mir-Ghamr Bank. Bank itu sesungguhnya cukup sukses namun karena tersandung oleh alasan politik pd zaman pemerintahan otoriter Jamal Abdul Nasser bank itu ditutup pd tahun 1967. Namun eksperimen bank Mir-Ghamr itu dihidupkan kembali dalam Nasr-Social Bank dg sponsor Pemerintah utk menolong masyarakat lemah sebagai bagian dari sosialisme Arab-Mesir. Namun bank tersebut tdk lama umurnya karena berhenti beroperasi pd tahun 1976. Dalam kasus dua bank perintis Mesir tersebut dapat ditarik beberapa pelajaran. Pertama; ajaran Islam mampu menggerakkan ide sosial-ekonomi. Ide spirit yg bersumber pd ajaran agama ini sekarang disebut juga sebagai modal sosial (social capital). Kedua; peranan cendekiawan yg memiliki suatu konsep yg mengoperasionalkan ajaran agama yaitu zakat & larangan riba. Ketiga; dalam dua kasus pendirian bank itu nampak peranan pemerintah yg pertama bersifat negatif. Intervensi kekuasaan yg bermotif politik menyebabkan tutupnya bank Mir-Ghamr tetapi bersifat positif dalam kasus didirikannya Nasr-Social Bank. Hanya saja karena tiada nya sifat bisnis pd Nasr Social Bank maka bank tersebut tdk bisa berlanjut. Sedangkan Mir-Ghamr Bank cukup sukses berkembang karena dijalankan secara professional walaupun mengandung unsur sosial. Perkembangan pesat bank-bank syariah yg lebih lazim disebut sebagai bank-Islam terjadi pd dasawarsa 70-an setelah terjadinya krisis minyak yg menimbulkan oil-boom pd tahun 1971. Dengan naiknya harga minyak hingga mencapai US$ 36 – per barel maka terciptalah surplus dolar hasil ekspor minyak. Modal itu mula-mula melayang ke Eropa Barat & AS utk disimpan / dibelikan saham-saham perusahaan-perusahaan besar. Dengan adanya surplus tersebut & secara kebetulan lahir pula generasi sarjana Muslim hasil didikan universitas- universitas Barat maka timbul gagasan konspirator utk menampung & menyalurkan modal tersebut di Dunia Islam sendiri. Maka berdirilah beberapa bank Islam di negara-negara Timur Tengah terutama di Sudi Arabia negara-negara Teluk & Mesir pd dasawarsa 70-an misalnya Dubai Islamic Bank (1973) di kawasan negara-negara Emirat Arab Islamic Development Bank di Saudi Arabia (1975) Faisal Islamic Bank di Mesir (1977).Kuwait House of Finance di Kuwait (1977) / Jordan Islamic Bank di Yordania (1978). Pada dasawarsa 80-an timbul bank-bank Islam di negara-negara Eropa Barat misalnya Islamic Bank Internasional di Denmark (1982) Islamic Banking System-Internasional Holding SA di Luxemburg / Dar al Maal di Swiss. Pada tahun 1983 berdiri Bank Islam Malaysia dam di tahun yg sama juga di Pakistan Pakistan Banking System. Baru pd tahun 1991 di Indonesia berdiri Bank Muamalah Indonesia (BMI). Dalam pembentukan bank-bank di negara-negara Timur Tengah sangat berperan orang-orang kaya yg dekat dg raja dg demikian pemerintah ikut berperan mendukung. Sumber dananya berasal dari minyak yg dikuasai oleh keluarga raja. Ini berbeda dg bank-bank di negara-negara industri maju yg berasal dari badan-badan usaha besar milik swasta. Di Indonesia peranan pemerintah sangat penting yg ikut menghimpun dana dari BUMN. Dewasa ini menurut International Association for Islamic Bank jumlah bank-bank Islam di seluruh Dunia Islam yg mencakup 40 negara-negara Muslim maupun non-Muslim sudah lebih dari 200 unit padahal pd tahun 1986 baru berjumlah 35 unit dg aset sebesar US$200 – miliar di antaranya deposito sebesar US$ 80 – miliar. Di antara bank-bank itu muncul kelompok trans-national group yaitu Dar al Mal al Islami & al-Baraka-Dallah Group. Satu di antaranya adalah Islamic Development Bank (IDB) yg sahamnya dimiliki oleh negara-negara Islam yg tergabung dalam OKI (Organisasi Konferensi Islam). Setiap negara Muslim punya hak utk meminta bantuan dana dari IDB ini di antaranya Indonesia telah memperoleh dana melalui BMI yg memperoleh modal sehingga IDB ikut memiliki 35% saham BMI & baru-baru ini BMI juga memperoleh dana tambahan sebesar US$ 100 – juta guna memperkuat permodalannya. Selain itu Reksadana Syariah yg dulu dipimpin oleh Iwan Poncowinoto telah memperoleh pinjaman sebesar US$ 100 – miliar & telah berhasil dikembalikan. Tapi secara umum Indonesia belum memanfaatkannya secara maksimal. Dari perjalanan perbankan & lembaga keuangan Islam itu dapat ditarik keterangan bahwa perekonomian Islam yg selama ini berkembang dimulai modal fisik (physical capital) / modal alam (natural capital) khususnya yg berasal dari minyak bumi. Dari hasil surplus ekspor minyak bumi ini terbentuk modal financial (financial capital). Pola perkembangan ini sebenarnya juga terjadi dalam perekonomian AS yg kaya sumber daya alam terutama minyak & emas. Demikian pula pola perkembangan negara-negara Eropa Barat. Hanya saja negara-negara Eropa Barat mengeksploitasi sumber daya alam negara-negara jajahan melalui kolonialisme & imperialisme. Namun demikian modal finansial tersebut belum berhasil menumbuhkan sektor riil khususnya di bidang pertanian & industri walaupun telah menimbulkan industri pertambangan yg oil-related (seperti petro-kimia) . Hal ini disebabkan karena dua hal. Pertama belum adanya konsep pembangunan yg komprehensif kecuali misalnya di Iran yg mengarah kepada pembangunan pertanian & industrialisasi. Sebenarnya dana petro-dolar tersebut bisa dipergunakan utk membangun pertanian di Mesir Sudan & beberapa negara Afrika Utara yg cukup berpotensi (misalnya di bidang hortikultura) Bahkan juga dapat diarahkan utk membangun kawasan Islam di Asia Tenggara khususnya Indonesia & Malaysia. Di Indonesia dana itu bisa ditanamkan di sektor kelautan khususnya perikanan yg sangat potensial. Namun hingga sekarang pun belum muncul gagasan utk membangun usaha kecil & menengah (UKM) di Dunia Islam. Namun di Indonesia bank-bank syariah khususnya BMI telah mengarahkan 70% dananya utk membiayai usaha UKM. Demikian pula lembaga-lembaga perbankan syariah baru seperti Bank Syariah Mandiri (BSM) BNI-Syariah & Bank IFI-Syariah telah mengarahkan sebagian besar dananya utk UKM. Perkembangan penting & khas perbankan syariah di Indonesia adalah berkembangnya Bait al Maal wa al Tamwil & Bait al Tamwil Muhammadiyah. Jumlahnya sekarang sudah mendekati angka 4.000 unit & Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) yg jumlahnya sekitar 86 unit. Lembaga ini merupakan bentuk lembaga keuangan mikro yg sangat sukses. Dan berbeda dg lembaga keuangan mikro / Grameen Bank di Bangladesh BMT & BTM di Indonesia ini tumbuh dari bawah yg didukung oleh deposan-deposan kecil. Walaupun tdk diakui sebagai bank namun lembaga BMT-BTM ini telah menjalankan fungsinya sebagai lembaga intermediasi yg mengelola dana dari utk & oleh masyarakat. Dengan perkataan lain BMT-BTM merupakan perwujudan demokrasi ekonomi. Apalagi sebagian besar BMT-BTM berbadan hukum koperasi yg merupakan badan usaha yg berdasarkan asas kekeluargaan yg sesuai dg Islam. Namun lembaga keuangan mikro ini masih tetap kekurangan dana dibanding dg kebutuhan dana masyarakat. Salah satu ciri khas lembaga keuangan Islam adalah kaitannya yg erat dg sektor riil sebab dalam sistem non-ribawi penghasilan lembaga keuangan tergantung dari keuntungan terutama yg bersumber dari nilai-tambah yg diciptakan oleh sektor riil khususnya pertanian & industri. Karena itu maka pertumbuhan perbankan syariah & lembaga keuangan mikro syariah perlu ditunjang dg pengembangan bisnis. Strategi pengembangan UKM ini erat kaitannya dg strategi yg diusulkan oleh Samir Amin Bung Hatta & Sritua-Arif. Berdasarkan pengalaman yg dipelajari oleh Samir Amin ekonom-politik Mesir negara-negara yg sekarang telah menjadi negara industri maju pd awal perkembangannya menempuh strategi produksi barang-barang kebutuhan rakyat banyak yg dikaitkan & diikuti dg pengembangan industri barang-barang modal. Baru pd tahap kedua produksi bisa diarahkan kepada barang-barang kebutuhan golongan menengah ke atas & yg berorientasi ekspor. Namun di Indonesia produksi UKM bisa pula diarahkan ke ekspor & bahkan memproduksi barang-barang mewah misalnya dalam bentuk kerajinan yg mengandung nilai seni. Industri mebel baik dari rotan maupun kayu justru memperoleh pasar nya di luar negeri & kota-kota besar & segmen masyarakat yg berpendapatan tinggi. Dalam pengembangan sektor riil ini faktor lain muncul yaitu sumber daya manusia (human resource). Dalam dua bukunya Intellectual Capital: The New Wealth of Organization (1998) & bukunya yg lebih baru The Wealth of Knowledge: Intellectual Capital & the Twenty-First Century Organization (2001) Thomas A. Stewart menyambut beberapa jenis modal (capital) misalnya tanah (land) pabrik-pabrik (factories) alat-alat (equipment) uang tunai (cash) & kepandaian (intellectual) . Identifikasi Stewart tersebut bisa di kelompok-kelompok kan ke dalam berbagai jenis modal yg kini beragam itu. Tanah (pertanian & pertambangan) termasuk ke dalam modal alam pabrik-pabrik & alat-alat (termasuk mesin) ke dalam modal material (material capital) uang tunai ke dalam modal finansial (financial capital) & kepandaian termasuk ke dalam modal intellectual (intellectual capital). Stewart dalam kedua bukunya mengatakan bahwa di zaman modern abad ke 21 ini peranan modal intelektual sangat penting. Secara khusus ia menyambut peranan pengetahuan (knowledge) informasi (information) hak milik intelektual (intellectual property) & pengalaman kolektif (collective experience) yg kesemuanya merupakan unsur-unsur modal intelektual. Semua jenis modal itu adalah merupakan sumber penciptaan kekayaan (wealth). Mengikuti konsep pembangunan Samir Amin yg sebenarnya pernah dikemukakan pula oleh Bung Hatta & diulangi oleh Sritua Arief maka yg perlu dilakukan oleh umat Islam & bangsa Indonesia adalah membangun industri namun industri yg saling menunjang pertanian. Pembangunan pertanian & pertambangan akan menggunakan modal alam. Karena pembangunan pertambangan membutuhkan modal besar maka harus diundang modal dari Timur Tengah. Misalnya saja dalam rangka dinarisasi mata uang perlu dikembangkan pertambangan emas yg cukup melimpah di Indonesia. Pengembangan UKM utk menghasilkan barang-barang kebutuhan missal itu perlu diikuti oleh pengembangan industri barang modal walaupun dg teknologi sederhana mengikuti pola India Cina Taiwan & Jerman yg menghasilkan alat-alat pertanian & industri kecil. Ini tentu saja membutuhkan teknologi yg berarti membutuhkan modal intelektual. Pendidikan & penelitian akan memegang peranan penting dalam pencitraan modal intelektual. Tapi lembaga pendidikan ini perlu langsung bekerja sama dg industri & pertanian. Di sini peranan organisasi besar semacam NU Muhammadiyah al Irsyad Persis al Wasliyah / Darul Dawah wal Irsyad di Sulawesi Tengah sangat penting. Sebenarnya industri perkapalan & dirgantara yg dikembangkan oleh BPPT perlu dipertimbangkan lagi. Amerika Serikat sangat kuat sektor industrinya karena memiliki industri yg menghasilkan teknologi yaitu General Electric. AS juga punya industri mobil terbesar du dunia yaitu General Motor Sedangkan Jerman memiliki Daimler Crysler Jepang memiliki Honda / Mitsubishi. Industri-industri itu mengandung berbagai jenis modal secara terpadu terutama modal material & modal intelektual. Indonesia & Dunia Islam dewasa ini baru dalam taraf memperhatikan modal manusia yg unsur utamanya adalah pengetahuan (knowledge) keterampilan (skill). Modal manusia yg dibutuhkan adalah wira swasta tenaga teknik & manajer. Hanya saja pengembangan SDM ini membutuhkan waktu lama karena itu perlu ditemukan bentuk-bentuk pendidikan yg lebih praktis misalnya sistem magang sebagaimana dikembangkan di Jerman sejak abad pertengahan. Pendidikan turun menurun melalui keluarga memerlukan perhatian & karena itu perlu mendapatkan perhatian pemerintah. Modal yg dimiliki oleh umat Islam dewasa ini adalah modal natural & dalam batas-batas tertentu modal finansial. Dalam hal ini perlu diperhatikan temuan De Soto yg mengatakan bahwa sebenarnya penduduk negara-negara sedang berkembang yg dianggap miskin itu sebenarnya sangat besar tapi puso (idle). Salah satu langkah yg dianjurkan adalah pengembangan hak-milik (property right). Program yg sebenarnya telah dilaksanakan di Indonesia adalah sertifikasi tanah. Jika tanah-tanah sudah di sertifikasi maka nilai modal natural akan meningkat secara signifikan. Dengan sertifikat itu masyarakat bisa mengakses modal dari perbankan & lembaga keuangan mikro guna mengembangkan UKM. Lembaga keuangan juga bisa melakukan sekuritisasi hak milik tersebut dalam rangka menghimpun modal. Berdasarkan teori De Soto perlu dikembangkan harta agama khususnya zakat sedekah infak & wakaf. Bank bisa berperan membantu usaha-usaha mobilisasi dana ini. Baru-baru ini oleh Prof. A. Mannan telah dikembangkan produk wakaf tunai (cash wakaf). Berdasarkan perhitungan di atas kertas wakaf tunai ini sangat besar potensinya & merupakan sumber modal financial yg sangat potensial. Namun sekali lagi hal ini memerlukan dukungan modal manusia & modal intelektual. Salah satu modal lain yg perlu diperhatikan adalah modal sosial yg dipropagandakan oleh Fukuyama. Sebenarnya ajaran Islam merupakan sumber modal sosial ini misalnya dalam ajaran amanah (trust) taawun (cooperation) saling mengenai (taaruf) & banyak lagi. Hanya saja ajaran-ajaran itu belum diinterpretasikan sejalan dg pemikiran ekonomi & pembangunan. Sekali lagi di sini sangat penting peranan perguruan tinggi & lembaga pendidikan & latihan pd umumnya. Setiap pendidikan pengetahuan & keterampilan perlu ditunjang dg pendidikan utk menciptakan modal sosial ini karena menurut Fukuyama modal sosial berdasarkan pengalaman negara-negara industri maju sekarang ini merupakan dasar dari kemajuan. Sumber: al-ikhwan.net